
Metro, 12 Oktober 2025 — Tim Agree Media yang diwakili oleh Ibu Oriza Agustin, menjadi salah satu narasumber dalam Diskusi Publik bertema “Ekonomi Buku dan Ruang Kreatif” yang digelar di salah satu kafe Payungi, Kota Metro, pada Minggu (12/10/2025) pukul 08.00 WIB.
Kegiatan ini turut menghadirkan dua narasumber lainnya, yakni Ibu Siti Mutmainah dari Penerbit Laduny dan Febi Akbar Rizki dari Penerbit Insight Pustaka. Turut hadir membersamai Bapak Founder Payungi Bapak Dharma Setyawan, MA dan rekan rekan penggerak Payungi selaku tuan rumah. Serta anggota diskusi dan mahasiswa aktifis. Diskusi ini menjadi ruang refleksi bersama tentang arah masa depan literasi, penerbitan, dan ekosistem kreatif di Kota Metro — sebuah kota yang dikenal sebagai kota pendidikan, menemui tantangan persimpangan masalah literasi.
Kota Metro berada di Persimpangan Literasi antara eksistensi Toko Buku, Gaya Hidup Gen Z, dan Harapan para Penerbit.
Di balik reputasinya sebagai kota pendidikan, geliat literasi di Metro justru menghadapi tantangan serius. Penerbit mayor datang dan pergi, Eksistensi Toko buku, peranan Penerbit, dan ruang baca tengah mencoba pertahankan eksistensinya di tengah derasnya arus digital dan minat baca buku di kalangan muda.
Menurut Ibu Oriza sinergi antar-pelaku penggerak literasi, pemangku kebijakan, penggerak sosial, pelaku usaha buku, stakeholder dan para penerbit menjadi kunci pergerakan pertahanan sinergi dalam konsep pemberdayaan diri. Salah satu Implementasi Konsep pemberdayaan diri ini di gagas oleh beliau dalam gerakan komunitas pemberdayaan ekonomi masyarakat Islam berbasis ZISWA dan Public Relation “Teras Komunal”.
> “Literasi tidak bisa berjalan sendiri. Ia tumbuh dari kolaborasi antara penerbit, komunitas, dan ruang kreatif. Kita perlu menggeser paradigma dari sekadar membaca ke menciptakan karya dan makna sebagai upaya pemberdayaan diri,” ujarnya dalam diskusi.
Eksistensi Toko Buku di Tengah Laju Dunia Digital
Sektor ekonomi buku di Metro beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan berat. Penerbit mayor datang dan pergi, sementara toko buku lokal dan penerbit indie harus berinovasi agar tetap hidup.
Di sisi lain, sektor kuliner dan hiburan tumbuh pesat berkat strategi pemasaran digital yang agresif.
“Dulu orang ke toko buku untuk mencari inspirasi, diskusi dan menghasilkan gagasan, sekarang mereka lebih suka ke kafe yang instagramable,” ujar Bapak Febi Akbar Rizki dari penerbit Insight Pustaka.
Fenomena ini menunjukkan bahwa minat terhadap pengetahuan belum sepenuhnya bertransformasi menjadi ekosistem ekonomi yang mendukung literasi. Karena itu, para pelaku perbukuan perlu beradaptasi dengan membuat toko buku online, kolaborasi dengan komunitas kreatif, hingga menggelar event literasi yang berpadu dengan seni dan musik agar tetap relevan di era digital.
Gen Z dan Krisis Konsentrasi Membaca
Generasi Z di Metro hidup dalam banjir informasi. Rata-rata waktu mereka di media sosial mencapai 6–8 jam per hari. Paparan konten singkat membuat fokus mereka terhadap bacaan panjang melalui buku— kondisi ini dikenal sebagai brain rot.
“Anak-anak muda sekarang bukan tidak bisa suka membaca, tapi tidak sanggup membeli dengan harga yang masih tinggi,” ungkap Ibu Siti Mutmainah dari penerbit Laduny.
Menanggapi hal itu, sejumlah komunitas mulai berinovasi. Salah satunya Penerbit Agree Media yang menghadirkan konten literasi kreatif di media sosial, membuka ruang nongkrong literasi, dan menyelenggarakan diskusi buku santai seperti Q- Time oleh Agree Media, serta Podcast Agree Media atau Bedah Buku di komunitas pemberdayaan ekonomi masyarakat islam berbasis Pu lik Relation yaitu “Teras Komunal”. Komunitas yang telah berjalan 6 tahun sebagai Coorporate Social Responsibility dari penerbit Agree Media ini mulai berdampak. Konsistensi Agree Media sebagai Corporate Donors menjadi salah satu harapan agar tantangan dunia literasi mulai mendapat jawaban. Pelan tapi pasti.
Penerbit Indie: Menjaga Nyala Literasi di Tengah Lesunya Pasar Buku
Meski industri buku nasional lesu, penerbit-penerbit indie di Metro justru menunjukkan daya hidup yang kuat. Mereka bukan sekadar bisnis penerbitan, tetapi juga gerakan sosial-kultural dan dakwah.
Seperti Penerbit seperti Agree Media yang konsisten membawa misi dakwah dan pemberdayaan ekonomi, sosial, pengetahuan bersamanya sejak lama. Laduny, dan Insight Pustaka berperan sebagai ruang kreatif bagi anak muda — tempat mereka belajar menulis, menerbitkan karya, dan berpikir kritis.
“Bagi kami, menerbitkan buku bukan hanya bisnis, tetapi bentuk perlawanan terhadap budaya instan, pragmatis, bagi Agree Media kami sangat menghargai originalitas karya penulis, maka dari itu pendampingan kepenulisan terus kami lakukan dari usia anak di sekolah- sekolah” tegas Ibu Oriza.
Tantangan terbesar penerbit adalah bagaimana tetap bertahan secara ekonomi tanpa kehilangan idealisme. Ini yang sangat dirasakan oleh Agree Media. Namun, semangat untuk sinergi secara kolektif ini justru menjadi bukti bahwa literasi di Metro masih bernyawa dan terus mencari bentuk terbaiknya.
Harapan Baru untuk Ekosistem Literasi Metro
Dari hasil diskusi, para narasumber sepakat bahwa literasi di Metro memerlukan ekosistem kolaboratif yang menghubungkan para akademisi, penerbit, komunitas kreatif, dunia usaha, dan kebijakan dukungan pemerintah daerah.
> “Jika kuliner bisa viral karena cita rasa, literasi juga bisa viral karena cinta,” ujar Ibu Mutmainah menutup diskusi dengan optimis.
Dengan strategi pemasaran kreatif, dukungan kebijakan publik, dan semangat kolaborasi lintas sektor, Metro berpotensi tumbuh menjadi kota literasi berdaya — tempat buku bukan hanya simbol pendidikan, tetapi juga sumber ekonomi kreatif dan budaya yang hidup.(OR)
Reporter: Tim Redaksi Agree Media
Lokasi: Kafe Payungi, Metro
Tanggal: 12 Oktober 2025

