Site icon

PANGGUNG INTERNASIONAL AKADEMISI FAKULTAS SYARIAH UIN JURAI SIWO LAMPUNG PADA 1ST ZICONS 2025: AGREE MEDIA PERKUAT SINERGI KEILMUAN

Flyer 1st Zicons Zawiyah International Conference on Sharia and Legal Studies. Dok. Fakultas Syariah IAIN Langsa. (17/11)Laporan Utama: Konferensi Internasional Syariah yang Menggugah Diskursus Hukum Islam Modern

Langsa, 17 November 2025 —Deretan akademisi dari berbagai penjuru tanah air mulai memenuhi Gedung SBSN Lantai 2 IAIN Langsa. Suasana konferensi internasional tampak kuat sejak pintu utama dibuka. Spanduk besar bertuliskan “1st Zawiyah International Conference on Sharia and Legal Studies—Revitalizing Sharia for Global Challenges” menjadi titik fokus pandangan para peserta yang datang dengan antusias. Konferensi ilmiah berskala internasional itu bukan sekadar forum akademik biasa. Dua akademisi dari Provinsi Lampung tampil sebagai presenter utama, menjadi sorotan dalam salah satu sesi pemaparan yang berlangsung secara hybrid. Keduanya adalah: Bapak Moelki Fahmi Ardliansyah, M.H. Beliau merupakan Dosen Fakultas Syariah UIN Jurai Siwo Metro. Pembicara kedua yaitu Bapak Restu Trisna Wardani, M.H. Seorang Dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Kehadiran kedua akademisi tersebut membawa representasi penting Provinsi Lampung dalam percakapan global mengenai syariah dan hukum Islam. Keduanya tampil memaparkan riset mendalam dengan gaya akademik yang kuat.

Sorotan Utama dalam Conference ini adalah Dilema Unifikasi Kalender Hijriah Global. Dalam sesi parallel yang menjadi pusat perhatian peserta, Bapak Moelki memaparkan kajian penelitian berjudul: “The Dilemma of Global Hijri Calendar Unification: The Dialectic of Fiqh and Astronomy in Realizing the Standardization of the Modern Islamic Calendar.” Presentasi tersebut mengupas persoalan klasik yang tak kunjung selesai yaitu; mengapa negara-negara Islam masih berbeda dalam menentukan awal bulan Kamariah. Pembahasan masuk dalam kajian Dialektika Fikih dan Astronomi. Bapak Moelki dan Bapak Restu memaparkan bahwa problem tersebut bukan semata perbedaan metode, tetapi menyangkut perbedaan epistemologis, yakni cara memandang otoritas ilmu melalui Rukyat sebagai pendekatan normatif berbasis penglihatan langsung hilal. Lalu kemudian melalui Hisab sebagai metode rasional-empirik berbasis kalkulasi astronomi. Ini merupakan sebuah Stagnasi unifikasi meski sudah ada resolusi OKI dan Konferensi Istanbul 2016 disebabkan oleh ketidakselarasan perspektif tersebut.

Bapak Moelki memaparkan kajian penelitian berjudul: “The Dilemma of Global Hijri Calendar Unification: The Dialectic of Fiqh and Astronomy in Realizing the Standardization of the Modern Islamic Calendar.” Dok. Agree Screenshoot (17/11)

Maka diadakan Kajian Komprehensif Lintas Disiplin, dimana Penelitian ini menelaah literatur fikih klasik dan kontemporer, dokumen OKI, keputusan ormas Islam, hingga data astronomi MABIMS, ICOP, dan IAU. Maka dari sinilah Moelki menarik tiga inti masalah yaitu; Perbedaan fundamental antara otoritas syar‘i dan metodologi ilmiah. Kebijakan negara-negara Islam yang belum sepakat pada kriteria visibilitas hilal global. Belum adanya integrasi penuh antara maqāṣid al-syarī‘ah dan astronomi modern. Di akhir presentasinya, Bapak Moelki mendorong penyusunan model kalender Hijriah unifikatif yang memadukan syariat dan sains secara proporsional melibatkan ulama, ahli falak, dan astronom dunia Islam.

Bapak Restu Trisna Wardani turut mengukuhkan kontribusi akademisi dalam Studi Syariah. Sebagai presenter kedua, Bapak Restu tampil membawa perspektif khas dari UIN Raden Intan Lampung. Kehadirannya menegaskan bahwa akademisi memiliki peran penting dalam lanskap studi syariah modern. Meski topiknya berbeda, paparan Restu turut memperkaya diskursus dan memperluas jangkauan kajian hukum Islam kontemporer di forum internasional ini. Presentasinya mendapat respons positif dari peserta yang mengikuti sesi daring maupun luring.

Suasana diskusi konferensi berlangsung hangat. Terdapat beberapa pertanyaan tajam dan antusiasme peserta sampai akhir acara yang dibuka pada pukul 08.00 WIB. Diskusi mengenai kalender hijriah menjadi salah satu yang paling ramai ditanggapi. Pertanyaan-pertanyaan dari peserta berisi kajian perhatian mendalam terhadap dilema historis dan ilmiah. Public membutuhkan standardisasi global bahkan terdapat diskusi yang mengangkat kegelisahan umat Islam terkait perbedaan hari raya. Melalui Zoom, ratusan peserta daring turut menyaksikan sesi-sesi yang berlangsung, sementara siaran langsung di YouTube memperluas jangkauan publikasi hingga lintas negara.

Mulai tahun ini Agree Media hadir sebagai Media Partner, memberikan dukungan penuh dalam publikasi, peliputan, dan diseminasi informasi semua Fakultas di Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung termasuk Fakultas Syariah. Dukungan ini sekaligus mempertegas komitmen Tim Redaksi dalam mendukung pengembangan riset, literasi, dan kerja sama antar perguruan tinggi Islam. Agree Media dalam hal ini turut perkuat sinergitas peran strategis sebagai jembatan Media, Literasi, Akademik serta Dakwah. Sebagai media partner, Agree Media berupaya mendukung publikasi setelah konferensi dengan mendistribusikan informasi ke jaringan mitra dan pembaca umum diluar akademik. Dengan begitu penguatan branding presenter dan keseluruhan akademik UIN Jurai Siwo Lampung termasuk Fakultas Syariah terus menjadi sorotan. Dalam ekosistem akademik modern, keberadaan media partner tidak sekadar pelengkap, tetapi merupakan bagian penting dalam menyebarluaskan gagasan dan meningkatkan reputasi institusi.

“The Dilemma of Global Hijri Calendar Unification: The Dialectic of Fiqh and Astronomy in Realizing the Standardization of the Modern Islamic Calendar.” Dok. Fakultas Syariah IAIN Langsa. (17/11)

Menjelang penutupan, panitia menyampaikan kembali beberapa poin penting yaitu; Presenter wajib mengikuti seluruh rangkaian acara. Pengumuman Best Presenter dan Best Paper dilaksanakan pada sesi akhir. ZICONS 2025 diharapkan menjadi ruang pertemuan bagi ide-ide baru, jejaring riset, dan kolaborasi antar-negara. Konferensi ini menandai tonggak penting bagi IAIN Langsa dan lembaga-lembaga yang berpartisipasi, termasuk UIN Jurai Siwo Metro, UIN Raden Intan Lampung, serta Agree Media sebagai mitra publikasi. 1st ZICONS 2025 bukan sekadar forum ilmiah, tetapi ruang dialog global yang mempertemukan tradisi fikih, metodologi penelitian modern, dan tantangan umat Islam kontemporer. Ini merupakan jejak penting dalam dialektika ilmiah global. Kontribusi para pemakalah dari  Prov.Lampung terutama di bidang unifikasi kalender Hijriah akan menjadi catatan tersendiri dalam dinamika pemikiran Islam modern. Keberadaan Agree Media sebagai media partner memperkuat penyebaran gagasan tersebut kepada masyarakat luas, sekaligus menegaskan posisi media sebagai pilar literasi akademik.(OA)

Exit mobile version