
METRO, LAMPUNG (23/02/2023)_Di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali hadir tanpa penyaring (filter) masyarakat kini dituntut untuk memiliki ketahanan literasi yang kuat. Fenomena hoaks dan disinformasi yang kian masif menjadi latar belakang utama digelarnya diskusi bertajuk “Saring Sebelum Sharing: Belajar Kritis dan Moderat dari Ilmu Hadis” yang diinisiasi oleh Agree Media.
Acara yang berlangsung di kawasan Pasar Payungi Metro ini menghadirkan narasumber ahli, Bapak Muhammad Fauzhan ‘Azima, M.Ag., sebagai Ketua Program Studi Ilmu Hadis UIN Jusila. Diskusi yang dipandu oleh Fikri Muhammad Hanif ini membedah bagaimana khazanah keilmuan Islam klasik dapat menjawab tantangan komunikasi modern, selain itu dihadiri juga oleh para Ustadz Aris Setiawan, Eko Yunianto, Suprapto, Ustadzah Enneng Nisa Alfiani Safitri selaku perwakilan DT Peduli Kota Metro. Hadir juga Ibu Dr. Oriza Agustin M.Si, Reva Dinda Monica, Akmal Fauzan, Aziz Mustofa Anwar, Muhammad Fahimu Fuad, Aisyah Nur Fadilah, M.Si selaku tim Agree Media Publishing dan juga para pesrta dari Mahsiswa dan Mahasiswi Prodi Esy dan Prodi ILHA UIN Jurai Siwo Lampung.
Acara bertajuk “Saring Sebelum Sharing” ini merupakan kolaborasi kreatif yang sangat kaya, karena tidak hanya menghadirkan perspektif akademis dari UIN JUSILA melalui narasumbernya, tetapi juga didukung penuh oleh ekosistem lokal yang solid seperti Payungi, Payungi Space, dan Teras Komunal. Sinergi ini semakin kuat dengan dukungan berbagai unit bisnis dan sosial mulai dari Fat Food, Fat O, Fat Beauty, DT Peduli, AFA Project, hingga PT Qotrun Nada, yang secara kolektif berupaya mengedukasi masyarakat di Pasar Payungi Metro agar lebih kritis dan moderat dalam memproses informasi melalui kacamata Ilmu Hadis.
Metode Hadis sebagai Tameng Disinformi
Dalam paparannya, Bapak Fauzhan menyoroti betapa kerasnya hantaman informasi di media sosial saat ini tanpa kemampuan memvalidasi data, masyarakat akan tenggelam dalam tumpukan informasi yang belum tentu benar. Ia menegaskan bahwa Ilmu Hadis menawarkan metodologi yang sangat ketat dalam menyaring sebuah kabar.
“Informasi begitu cepat menyebar tanpa filter. Jika kita tidak menguasai ilmu menyaring informasi, dampaknya tidak akan bagus karena terlalu banyak sampah informasi yang masuk ke dalam pikiran kita,” ujar Bapak Fauzhan di hadapan audiens.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa prinsip-prinsip dalam Ilmu Hadis seperti pemeriksaan sanad dan matan mengajarkan manusia untuk selalu mengedepankan prinsip kebenaran sebelum menyebarluaskan sesuatu, menurutnya ilmu ini akan tetap relevan hingga akhir zaman terutama dalam membentuk karakter manusia yang kritis, progresif, dan bijak dalam berkomunikasi di masa depan.
Sentuhan Spiritual Menjelang Ramadan
Acara ini tidak hanya membahas aspek intelektual, tetapi juga menyentuh sisi spiritual. Perwakilan dari lembaga amil zakat DT Peduli turut berpartisipasi dengan memberikan edukasi mengenai persiapan menyambut bulan suci Ramadan yang sudah di depan mata.
Dalam sesi singkatnya, perwakilan DT Peduli memberikan pesan mendalam bagi para peserta. “Jika kita mengagungkan Ramadan, maka kita akan diagungkan ke depannya,” tuturnya, merujuk pada pentingnya memuliakan bulan suci dengan persiapan amal dan niat yang tulus.(AO)

