Site icon

SDIT WU Selenggarakan Parenting Talks Membentuk Karakter Anak Melalui Penguatan Literasi

SDIT WU, METRO – Pada Sabtu 03 Agustus 2024 SDIT Wahdatul Ummah mengadakan kegiatan Parenting Talks dengan tema “Kolaborasi Orang tua & Sekolah dalam Membentuk Karakter Anak di Era Digital Melalui Penguatan Literasi”. Kegiatan tersebut dihadiri oleh wali murid SDIT WU dan tamu undangan. Kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan informasi serta menjalin kerja sama antara sekolah dan orang tua berkenaan dengan pengasuhan anak di era digital saat ini, dengan harapan menumbuhkan karakter baik pada anak.

Sebanyak 267 Wali Murid turut hadir dalam Parenting Talks di Aula Dinas Pendidikan. Acara tersebut mengundang Kepala Dinas Pendidikan Kota Metro, Ketua Yayasan Wahdatul Ummah,  Ketua K3SD Kota Metro dan Pengawas Sekolah, serta Ketua Komite SDIT WU. Kegiatan Parenting Talks ini mengundang narasumber hebat, Irwan Rinaldi, atau yang akrab disapa Ayah Irwan. Ayah Irwan dikenal sebagai trainer, penulis buku, dan pakar Parenting Ayah untuk Semua (AuS). Ayah Irwan pula memperoleh penghargaan “Ayah Pejuang 2017” dari Gerakan Ibu Negeri (GIN).

Para wali murid sangat antusias menghadiri acara tersebut, termasuk perwakilan Agree Media Yogyakarta, yang juga sebagai salah seorang wali murid. Agree media, baik dalam perannya sebagai orang tua, masyarakat, dan penggiat literasi, tentu mendukung penuh setiap geliat gerakan literasi sekolah yang semakin semangat mengembangkan potensi diri.

Dilihat dari mulai dipadatinya Aula Dinas sejak pukul 08.00 WIB. Kegiatan dimulai pada pukul 08.30 WIB dan selesai pada pukul 12.00 WIB. Beberapa poin penting dari materi parenting ini yaitu perlunya kehadiran orang tua secara emosional, tidak hanya secara fisik semata. Selain itu diperlukan juga penanaman empati penting sejak usia dini, yakni usia 0-7 tahun, karena akan tersimpan dalam memori bawah sadar mereka dan akan terimplementasikan pada usia remaja.

Dari kegiatan parenting talks tersebut, Ayah Irwan menyimpulkan bahwa Penanaman karakter baik tepat dilakukan pada usia 0-7 tahun, dengan tahapan knowing, feeling, dan action. Hal yang paling utama adalah sebelum orang tua mengasuh pada anak, orang tua harus berani untuk mengubah dirinya, menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya, memberikan aktivitas yang bermakna bagi kehidupan anak, kemudian secara bertahap membiasakan membangun pola pikir positif. Orang tua dan anak juga harus dapat melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik, sehingga proses mengasuh anak dapat terlaksana dengan baik.

Adapun Tantangan Pengasuhan Anak Abad 21 adalah berupa kecakapan, yang diperlukan untuk menghadapi fenomena pergeseran pada abad-21 tersebut ini adalah;

  1. Literasi Dasar (Kemampuan menggunakan core skill untuk kehidupan sehari-hari)
  1. Kompetensi (Kemampuan siswa menyelesaikan permasalahan kompleks)
  1. Karakter (Kemampuan siswa menghadapi perubahan pesat pada lingkungan)

Kegiatan ini juga membahas hal penting dalam bangun karakter melalui gerakan literasi yaitu bangun karakter dimulai sejak dini, bangun gerakan literasi di rumah maupun sekolah, mulai dari dalam keluarga.

Gerakan literasi di sekolah ataupun rumah dapat dilakukan dengan 3 proses, yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Praktik yang dapat dilakukan misalnya menumbuhkan minat sesuai tahap perkembangan, seperti misalnya membaca, berkomunikasi, dan berpikir Kritis. Orang tua juga diharapkan dapat mendorong anak untuk memiliki kecakapan dalam menyimak, membaca, berbicara, menulis, memilah informasi. Proses gerakan literasi ini juga diiringi dengan pembelajaran, yaitu berupa usaha orang tua atau sekolah untuk mempertahankan minat literasi anak dengan berbagai cara.

Orang tua harus berperan besar dan mempunyai keterampilan yang wajib dikuasai seperti, memahami dan mengenali perkembangan anak, membangun perilaku positif, manfaatkan momentum dan kuasai komunikasi. Proses pembentukan ini melibatkan orang tua, sekolah dan masyarakat, di mana mereka semua diharapkan dapat memberikan tindakan nyata berupa Loving (Mencintai anak apa adanya), Coaching (Bimbing anak dengan ilmu), dan Modeling (Jadi teladan karena dikagumi bukan ditakuti).

Dengan adanya kegiatan tersebut, diharapkan orang tua dan sekolah dapat berkolaborasi aktif, membimbing, menyediakan media, memberikan keteladanan yang baik pada proses tumbuh kembang anak-anak, serta memberikan dampak positif terhadap pihak sekolah berupa peningkatan mutu pembelajaran dan kreativitas. Tentu saja dampak positif ini mampu meningkatkan citra sekolah dan kompetensi siswa pada umumnya.

 

 

 

Exit mobile version