Jakarta, 30 Juni 2024. Perhelatan tahunan Sayembara Gerakan Literasi Nasional (GLN) kembali digelar. Sayembara ini merupakan kegiatan untuk menciptakan naskah buku anak yang bermutu. Sebagai rangkaian dari acara tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa – Kemendikbudristek juga mengadakan Lokakarya Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi tahun 2024 yang diadakan pada tanggal 27 Juni-1 Juli 2024. Tujuan dari Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi Tahun 2024 adalah untuk membantu para penulis naskah terpilih menyelesaikan naskah buku bergambar dan mendorong mereka untuk membuat karya yang berkualitas. Selain itu, Badan Bahasa berkomitmen untuk meningkatkan literasi Indonesia melalui lokakarya ini.
Lokakarya dibuka oleh Pelaksana harian (Plh.) Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Hafidz Muksin. Beliau menyampaikan bahwa literasi merupakan pondasi utama suatu bangsa, dan program ini merupakan bentuk nyata untuk mengingkatkan minat baca anak-anak Indonesia.
Tahun ini ada 1822 naskah yang diterima panitia, hanya 350 naskah dari 293 penulis yang berhasil lolos seleksi. Penilaian meliputi unsur kekuatan ide cerita, kesesuaian dengan tema/fokus karakter, kesesuaian dengan jenjang pembaca, kelengkapan papan cerita (storyboard), dan kualitas/ketepatan ilustrasi. Para penulis terpilih berkumpul di Hotel Le Meridien Jakarta untuk mempresentasikan karyanya di depan para mentor. Salah satu dari penulis tersebut adalah Elin Wiji, yang merupakan bagian dari tim manajemen Agree Media. Lewat naskahnya yang berjudul Bena Boleh Merasa, Elin mengusung tema Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak, untuk jenjang B3 (pembaca berusia 9-11 tahun)
Elin yang juga mengilustratori sendiri karyanya, mendapat respon positif dari mentor. Tentu masukan dan kritik yang membangun juga diterimanya. Hal ini tidak mematahkan semangatnya, karena Elin tahu bahwa program ini memang ditujukan untuk menghasilkan bahan bacaan yang bermutu. Elin mengungkapkan bahwa ajang ini merupakan sarana yang sangat bagus untuk mendapat ilmu-ilmu berharga seputar literasi, khususnya bahan bacaan anak.
Selanjutnya, proses penyempurnaan bahan bacaan ini akan terus berlangsung hingga bahan bacaan siap disebarkan ke PAUD dan SD di seluruh Indonesia, terutama pada daerah 3T – Tertinggal, Terdepan, dan Terluar.
